Mengenal Multiple Intelligence
Teori Multiple Intelligence ini dikembangkan oleh Gardner, dengan mendeskripsikan tujuh kecerdasan manusia dalam Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences (2004), yaitu:
        1. Linguistic intelligence (kecerdasan linguistik) adalah kemampuan untuk berpikir
           dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan
           menghargai makna yang kompleks.
        2. Logical-mathematical intelligence (kecerdasan logika-matematika) merupakan  
           kemampuan dalam menghitung, mengukur, dan mempertimbangkan proposisi dan
           hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi matematis.
        3. Spatial intelligence (kecerdasan spasial) membangkitkan kapasitas untuk berpikir
           dalam tiga cara dimensi seperti yang dapat dilakukan oleh pelaut, pilot, pemahat,
           pelukis, dan arsitek. Kecerdasan ini memungkinkan seseorang untuk merasakan
           bayangan eksternal dan internal, melukiskan kembali, merubah, atau memodifikasi
           bayangan, dan menghasilkan atau menguraikan informasi grafik.
        4. Bodily-kinesthetic intelligence (kecerdasan kinestik-tubuh) memungkinkan seseorang
           untuk menggerakan objek dan keterampilan-keterampilan fisik yang halus. Misalnya
           kelihatan pada diri atlet, penari, ahli bedah, dan seniman yang mempunyai
           keterampilan teknik.
       5. Musical intelligence (kecerdasan musik) jelas terlihat pada seseorang yang memiliki  
          sensitivitas pada pola titinada, melodi, ritme, dan nada. Misalnya pada seorang
          komposer, konduktor, musisi, kritikus, dan pembuat alat musik juga pendengar yang
          sensitif.
       6. Interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal) merupakan kemampuan untuk
          memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif. Hal ini terlihat pada guru,
          pekerja sosial, artis, atau politisi yang sukses.
       7. Intrapersonal intelligence (kecerdasan intrapersonal) merupakan kemampuan untuk
          membuat persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan
          semacam itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang. Misalnya
          terlihat pada ahli ilmu agama, ahli psikologi, dan ahli filsafat.